Mahasiswa Milenial: Antara Konstruktif dan Konsumtif

Mahasiswa sekarang sangat berbeda jauh dengan mahasiswa era reformasi 98, mahasiswa kala itu bukan hanya konstruktif, tetapi mempunyai heroisme yang tinggi dalam menumbangkan rezim Orde Baru, dan belakangan ini sifat konsumtif mahasiswa lebih tendensi dibandingkan sifat konstruktif, artinya mahasiswa sekarang lebih dominan “menggunakan” karya orang lain daripada “menciptakan” karyanya sendiri. Pilihan dua sifat ini sangat menentukan karakter atau paradigma mahasiswa dalam melakukan tindakan, karenanya ini sangat berpengaruh terhadap proses atau perkembangan mahasiswa dalam berpikir dan bertindak.

Secara umum, sifat konstruktif dan konsumtif ini tidak asing lagi diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, namun secara spesifik di kampus Universitas Bhayangkara Surabaya atau biasa disebut UBHARA SURABAYA. Perguruan tinggi ini sangat beragam tipologi mahasiswa nya, selain dari dua sifat diatas ada juga sifat atau tipologi yang lain, mulai dari apatis, hedonis, pragmatis, praktis, pasif dan progresif, mahasiswa di kampus ini cenderung praktis dan pasif, karena birokrasi kampus terlalu membatasi dan mengintervensi mahasiswanya, mulai dari mengadakan kegiatan, ikut organisasi, hingga mencekoki doktrinasi yang bertentangan dengan Tridharma Perguruan Tinggi.

Adapun sifat konsumtif yang dituangkan di Fakultas Teknik, yaitu mengadakan lomba game Mobile Legends dan PUBG Mobile, disitu kampus mendukung dan mengakomodasi sifat konsumtif mahasiswanya dengan mengadakan lomba tersebut, seakan-akan kampus yang notabene-Nya insan akademik tidak ada bedanya dengan komunitas diluar yang non-akademik. Bagaimana bangsa ini bisa maju jika kampus yang dulunya tempat orang-orang intelektual, lebih-lebih mahasiswanya yang dibiarkan bahkan didukung dengan bersifat konsumtif. Berikan kebebasan seluas-luasnya kepada mahasiswa dalam berekspresi, agar mahasiswa dapat berkembang dengan konstruktif, karena upaya ini tidak lain dan tidak bukan hanya untuk meningkatkan integritas dan reputasi kampus.

Penulis: Suharianto

Publikasi: 09-05-2019 | 13.04 WIB

Iklan

Strategi dan Gerakan PMII

Ketika berbicara “strategi” tentu tidak lepas dari yang namanya “gerakan” karena dua hal ini sangat relevan ketika diaplikasikan dalam organisasi, spesifiknya organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Subjek mengenai strategi dan gerakan sangat krusial untuk diterapkan dalam berbagai kepentingan, antara lain; melakukan rekrutmen kaderisasi, implikasi dalam percaturan politik kampus, hingga dominasi leading sector kampus.

Dalam ketiga pokok pembahasan diatas, para stakeholders atau kader PMII tentu harus mempunyai peranan penting terhadap proses strategi dan gerakan itu berlangsung, pertama strategi dan gerakannya harus terorganisir dengan baik, upaya proses kaderisasi berjalan sesuai dengan tujuan, kedua keterlibatan kader dalam percaturan politik kampus sangat menentukan eksistensi PMII, dari mengekspresikan diri dan penentuan keberhasilan PMII dalam mendominasi di semua bidang, ketiga menguasai leading sector kampus, ini merupakan langkah strategis dalam memetakan tujuan gerakan itu sendiri.

Strategi dan gerakan yang lain juga harus jelas dan terarah, seperti melakukan ekspansi dan diplomasi dengan organisasi internal kampus dan birokrasi kampus, mensiasati dan memperbaiki hubungan itu kembali. Kader PMII jangan pernah membiarkan titik sentral kampus dikuasai oleh kelompok-kelompok radikal dan intoleransi, karena ini akan menyebabkan dangkalnya pemahaman kebangsaan terhadap mahasiswa lebih-lebih mahasiswa baru.

Wallahul Muwaffieq Ila Aqwamith Tharieq

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam Pergerakan!!!

Penulis: Suharianto

CALEG KORUPTOR: MEMBARATKAN MORAL BANGSA

06 April 2019, 12.55 – Oleh: Kriswanto Sinaga.

Koruptor, imajinasi saya langsung merujuk kepada hal yang sangat buruk bagi bangsa ini. Berapa banyak lagi moral bangsa ini yang harus tertindas. Seakan budi yang ada pada pejabat kita kini, mencerminkan kegagalan pendidikan yang diberikan oleh orang tua dalam berbangsa dan bernegara. Saya ingat betul, bagaimana dulu orang tua saya membimbing saya untuk tidak mencuri, taat beragama, dan tidak berbohong. Memang, sederhana sekali nasihat orang tua, tetapi… jika tidak terpatri di dalam moral kita sebagai warga negara yang berbangsa, bernegara, dan beragama, korupsi mudah sekali dilakukan.

Salah satu fenomena yang perlu mendapat perhatian ialah terkikisnya rasa malu bangsa Indonesia. Krisis peradaban seperti korupsi, kebencian, terorisme, kekerasan yang sedang terjadi di planet bumi masa kini merupakan akibat manusia makin kehilangan rasa malu. Saya menyempatkan diri mengikuti seorang penulis yang saya anggap sebagai panutan. Yaitu Jaya Suprana, beliau hingga menulis “Malumologi”. Istilah kelirumologi, alasanologi, humorologi, menjadi beberapa istilah yang sangat akrab dengan Jaya Suprana. Pendiri Rekor MURI ini rupanya ingin menempatkan kembali yang sering salah persepsi. Jaya Suprana menegaskan malumologi bukanlah ilmu bikin malu tetapi sebuah telaah terhadap fenomena rasa malu. Metode yang dipakai untuk menelaah rasa malu dapat menggunakan ilmu-ilmu yang sudah ada seperti psikologi, sosiologi, biologi hingga filsafat.

Melalui malumologi, yang gabungan dari kata “malu” dan “logos”, Jaya Suprana seakan mengajak banyak orang untuk belajar rasa malu. Dalam tradisi pemikiran timur, rasa malu memainkan peran penting sebagai salah satu landasan moralitas hingga tata nilai kehidupan. Kata “malu” sendiri memiliki beberapa arti seperti merasa sangat tidak enak hati, hina, rendah dan sebagainya karena berbuat sesuatu yang kurang baik; segan melakukan sesuatu karena ada rasa hormat, agak takut, dan sebagainya; kurang senang.
Malumologi nampaknya bukan untuk menonjolkan rasa minder atau rendah diri, tetapi lebih ingin mengasah kepekaan dan kerendahan hati. Saya sangat sependapat dengan apa yang ingin beliau sampaikan kepada bangsa ini. Terpaksa saya mengutip puisi Malu Aku jadi Orang Indonesia karya Taufik Ismail, “Di negeriku budi pekerti mulia didalam kitab masih ada, tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam ditumpukan jerami selepas menuai padi”. Kemudian, saya akhiri dengan kalimat, “Di sela khayalak aku berlindung di belakang hitam kacamata dan kubenamkan topi baret di kepala. Malu aku jadi orang Indonesia!”

Saya yang juga sebagai orang Indonesia secara tidak langsung membuktikan bahwa masih ada orang yang masih memiliki rasa malu. Saat dulu saya meminta maaf dengan penuh kesadaran atas perbuatan yang telah saya lakukan. Memang manusia tak pernah luput dari kesalahan sekecil apapun, setidaknya jika pendidikan kita memiliki nilai moral yang tinggi “koruptor” tidak dijadikan sebagai cita-cita bangsa ini. Namun pada kenyataan, sayang beribu bahkan setriliun sayang banyak orang Indonesia tidak memiliki rasa malu.

Wallahul Muwaffieq Ila Aqwamith Tharieq.
Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Salam Mahasiswa!!!
Hidup Mahasiswa!!!
Hidup Rakyat Indonesia!!!

Perjuangan Mahasiswa di Kampus Sekuler

Surabaya – Mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) selalu mendapat tindakan represif dan preventif baik dari birokrasi kampus maupun organisasi kemahasiswaan internal kampus, dengan dalih untuk menghindari kritikan-kritikan yang dianggap subversif dan mencederai dinamika kampus. Tindakan seperti ini secara perlahan akan mencegah perjuangan mahasiswa, namun hal ini sangat disayangkan ketika dibiarkan begitu saja tanpa ada perlawanan dari mahasiswa.

Ironisnya, birokrasi kampus kembali pada konsep yang pernah diluncurkan oleh Dr. Daoed Joesoef “Menteri Pendidikan dan Kebudayaan” yaitu Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) yang dituangkan dalam Surat Keputusan No. 0156/U/1978, tertanggal 19 April 1978, yang bertujuan untuk mensterilkan kampus dari politik, budaya membaca dan diskusi namun, konsep ini sangat kontroversial di kalangan mahasiswa, sebab ini akan membuat daya kritis mahasiswa mati dengan begitu saja.

Birokrasi kampus dengan organisasi kemahasiswaan internal kampus seakan-akan sudah ada konspirasi bagaimana mereka untuk selalu bertindak preventif terhadap mahasiswa yang tergabung dalam organisasi PMII untuk tidak masuk ke leading sector kampus, dalam melakukan rekrutmen kaderisasi, mencalonkan diri sebagai Presiden BEM, Gubernur BEM, dan Ketua Umum UKM yang selalu digagalkan di tahap verifikasi.

Adapun tindakan lain dari birokrasi kampus dan organisasi kemahasiswaan internal kampus dengan cara mendoktrin mahasiswa baru untuk tidak bergabung dalam organisasi PMII tersebut, dengan alasan organisasi itu sesat, keras, pragmatis, dan organisasi politik Namun, orang yang mengatakan demikian, sampai sekarang belum berani face to face dengan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini.

“Apabila usul ditolak tanpa dipertimbangkan suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu kenyamanan, maka hanya ada satu kata LAWAN!!!.” – Wiji Thukul –

Wallahul Muwaffieq Illa Aqwamit Thorieq

Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Penulis: Suharianto